Kembara

Menerima adalah salah satu bentuk kekalahan. Rani ingat dengan lekat ungkapan pesimis ini yang dulu pernah diungkapkan kepadanya oleh kakeknya, yang katanya dia dapatkan dari kakeknya dan seterusnya sampai ke ujung muasal riwayat yang tak dapat diterka. Rani mengingat kakeknya sebagai seorang uzur yang penuh penyakit dan kemurungan, tanpa istri tanpa anak. Sebatang kara. Kata orang-orang dulunya dia sering menggunakan susuk untuk menggoda perawan-perawan desa. Sekarang, susuk-susuk yang tertanam di tubuhnya tak mampu berbuat banyak ketika kerentanan usia menerpa rangka dan daging yang dulunya segar dan muda. Susuk dengan sukma yang dahsyat tersebut menguapkan seluruh energi yang tersisa di tubuh ringkih si tua, dan kini yang tersisa hanya balutan kulit atas tulang.

Apakah Rani percaya pada perkataan kakeknya? Apakah kakek tidak bisa menerima keadaan tubuhnya yang sekarang? Apakah penerimaan begitu sulit bagi kakek?

Rumah yang ditinggali keduanya sudah berumur, dan tampak tak lebih seperti tubuh ringkih kakeknya yang kian membusuk. Kulit yang membusuk, tulang yang membusuk, kehidupan yang membusuk. Mengapa kehidupan memberinya hal-hal yang tak bisa ia terima? Rani seringkali membatin. Tapi segetol apapun dia bertanya, kehidupan hanya akan memberikan simpulan-simpulan induktif yang membosankan. Kakeknya berdosa, maka ia patut dihukum. Baiklah, kata Rani. Tapi apakah ia juga patut ikut menerima padanan dosanya?

Rani tidak suka dengan ungkapan-ungkapan normatif induktif semacam itu. Dia memilih untuk menolak segala jawaban dengan bentuk simpulan seperti itu. Mungkinkah ia bisa menemukan bentuk simpulan lain?

Pada suatu pagi yang muram, Rani bergegas pergi ke luar rumah untuk mencari kayu bakar setelah sebelumnya memandikan kakek dan menanak nasi tanpa memasak apapun sebagai lauk. Tubuh kakek sudah busuk ini, tak butuh rasa hanya kenyang. Pikirnya. Maka ia melangkah di bawah bayang-bayang awan. Menyusuri teduhan-teduhan redup dari ranting-ranting kering pepohonan yang berdiri sepanjang jalan setapak. Dia mendongak, dan berharap hujan turun lebih telat dari biasanya.

Kakinya merajam tanah, dan dedaunan kering, dan tetumbuhan yang meranggas, dan sesekali barisan semut hitam. Rani biasanya tidak peduli dengan apa yang kakinya injak. Apapun yang dia injak, tidak peduli dengan apa yang menginjaknya. Semut mati, dedaunan lebur, tanah meremah di permukaan tapak kakinya. Tak ada yang peduli dengan apa yang ditinggalkan telapak kaki Rani di jejak-jejaknya.

Langkahnya melebar, lajunya makin cepat saja. Matanya tidak lagi mengindahkan sekitar tempat dia biasanya menemukan kayu bakar untuk dijual di pasar. Pikirannya makin tidak karuan. Rani nampak lebih tidak peduli dengan semut-semut hitam yang lumat dirajam langkah kakinya. Mungkin hujan akan segera datang jika dia tidak lebih bergegas, mungkin awan akan gentas dan tetiba terik matahari akan membakar kulitnya. Tak ada pilihan yang lebih mudah. Rani terbiasa dengan pilihan-pilihan dilematis yang mematikan. Tapi tidak kali ini.

Rani merasa hanya ingin pergi keluar. Kini ia di luar dan ia merasa bahwa segala sesuatu yang dilihat dan dicerap inderanya sebagai hal yang lebih mengerikan dari bau busuk dan borok yang melumuri sekujur tubuh kakek.

Rani tidak terbiasa berharap banyak pada apapun. Sedikitnya dia hanya berharap pada kayu bakar yang dia pikir bisa memberi cukup uang untuk membeli beras. Air ia dapat ambil di sungai. Sandang ia dapatkan dari pemberian warga desa. Untuk apa berharap banyak jika apa yang ia butuhkan telah terpenuhi?

Sekarang ia mulai berpikir untuk berharap pada kebebasan. Dia berharap untuk lepas dari bau busuk dan kejorokan-kejorokan lainnya. Dia berjalan dan sesekali berlari, untuk kemudian memperlambat langkahnya kembali dan menyadari keadaan sekitarnya. Apa yang bisa ia lakukan untuk jadi bebas? Di mana ia bisa menemukan bebas?

Tatapan matanya meraba-raba spasi antar pepohonan, antar dedaunan yang bertingkat, antar dedaunan dan awan, antar awan dan kekosongan yang memoles cakrawalanya. Ada kebohongan yang tersembunyi di balik biru itu, pikirnya. Kebohongan yang serupa pernah diungkapkan kakek tentang orang-orang di kota yang mengonsumsi daging manusia untuk bisa hidup lebih lama. Kekosongan tidak punya warna, kebohongan juga tidak. Apakah kebebasan punya warna?

Kini dia berada di tengah-tengah rimba, di bagian yang belum pernah sekalipun dijamahnya. Dia tidak tahu ke mana dia harus berjalan untuk kembali ke gubuk yang hampir remuk, yang ia sebut rumah itu. Instingnya memberitahu bahwa jejak kaki adalah petunjuk yang paling jitu. Maka dia mencari-cari jejak kakinya di antara dedaunan remuk yang berserakan. Di antara permukaan tanah yang legok dan berbatu. Dia tidak mampu menemukan satu jejak pun. Kini dia merasa bingung dan mulai ketakutan. Di mana jejak kakinya? Bagaimana mungkin tak ada sedikitpun jejak yang tertinggal?

Mungkin ini saatnya dia mulai berharap lebih pada apapun yang hinggap di pikirannya. Maka dia mulai berharap pada remah tubuh-tubuh semut yang dia injak sepanjang jalan. Juga pada celah-celah di antara belukar yang mungkin dia pernah terobos dengan paksa. Dia berharap untuk tidak tersesat lebih jauh. Dia ingin pulang.

Maka Rani mulai berjalan dan berharap. Berjalan dan berharap. Lebih jauh ke dalam sana, rimba yang menelan gelap dan menyimpan ancaman. Tak ada pilihan lain, pikirnya. Lagi pula, bukankah dia memang berniat untuk menjadi bebas? Yang berarti dia berniat untuk tidak kembali?

Rani ingat betul dulu kakek pernah bercerita tentang anak perempuan berkerudung merah yang pergi melintas hutan untuk mengantarkan sekantong makanan bagi neneknya. Namun sayang, setibanya di rumah nenek, yang dia dapati adalah mulut serigala yang menganga. Rani berharap hidupnya tidak berakhir seperti si anak perempuan tersebut. Dia telah berharap pada begitu banyak hal sekarang, tapi dia tidak perduli. Dia hanya ingin lanjut berjalan dan berharap. Semoga serigala di hutan ini tidak suka melahap ketiadaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s