Ketika Rani Bicara

Anak itu murung saja sambil duduk-duduk di ranjangnya yang awut-awutan. Tak ada sesiapa di sana. Sepi. Hanya deru suara angin yang kadang-kadang mencoba masuk lewat celah-celah jendela. Di luar, di lorong-lorong, di ruangan-ruangan lain rumah itu kesunyian nyinyir ke setiap sudutnya. Rani tetap tak beranjak dari tempatnya semula. Kepalanya tertunduk, tatapan matanya kosong menyapu bayangannya sendiri di atas lantai kamar. Dalam kepalanya mungkin beragam khayalan sedang beradu cepat menghinggapi benaknya. Dan, dalam kesunyian yang menyelimuti udara kamar, suara-suara imajiner tiba-tiba muncul menerpa pikirannya.

Baca lebih lanjut

Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Sapardi Djoko Damono (Kompas, 9 Februari 2014)

Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono ilustrasi Rifda Amalia

WARTAWAN Itu Menunggu Pengadilan Terakhir

Seperti yang sudah seharusnya, pada hari baik itu saya mati. Kata seorang sahabat dalam sebuah sajaknya yang mahaindah, kita semua ini turis yang dibekali karcis dua jurusan. Dan tentunya, pikir saya, kita tidak boleh menyia-nyiakan tiket pulang itu. Saudara tahu, saya wartawan sebuah majalah berita. Dididik untuk mengembangkan naluri mewawancarai orang. Itu sebabnya ketika harus menunggu giliran maju ke Pengadilan Terakhir, yang entah kapan dilaksanakan, naluri saya mendadak menyembul. Saya celingak-celinguk di antara begitu banyak orang (mati) dan, alhamdulillah, ketemu seorang (sic!) Malaikat yang sedang tugas keliling mengamati kami. Saya mendekatinya.

”Kalau boleh tanya, apa saya bisa menemui Kakek kami?” 

Lihat pos aslinya 1.377 kata lagi

Ibu dan Lelaki Berpenis Tembaga

Hari Minggu kemarin ibu mengajakku pergi ke pasar Minggu, yang penuh sesak oleh racauan pembeli dan penjual. Pasar Wanaraja namanya. Setiap hari sepanjang jalan depan pasar selalu macet, delman parkir dengan kepala kuda menohok jalan. Tak ada sekat untuk pejalan kaki melewati pasar, hanya ruang-ruang sempit di antara ketiak kuda untuk pembeli yang datang dengan motor lalu berhenti tepat di depan muka kuda. Kuda-kuda mendengus kesal, tapi deru motor masih terlalu keras untuk ditimpali oleh dengusan kuda.

Baca lebih lanjut

Lain

Beginilah jadinya, kita saling bertemu tatap lagi di tempat yang sama. Fragmen-fragmen warna yang redup menjadi latarnya. Pohon-pohon yang tak aku tahu jenisnya berdiri berjarak seolah menjadi penontonnya. Dan, oh ya, laluan antar taman lama ini jadi panggungnya. Sepertinya kita harus mulai berdrama lagi. Aku jadi lelaki bajingannya, dan kamu, perempuan berwajah malang, selalu berperan klise sebagai korban. Aktingmu selalu memukai. Setiap kali aku memujimu pasti kau tersenyum. Dan lihatlah, senyum simpul itu nampak lagi. Sayang, itu palsu.

Kenapa kembali? Jalan di belakangku sudah lama buntu. Tak ada lagi yang lewat lebih jauh dari tempatku berdiri kini. Ada tulah yang menunggu di dalam sana. Tapi aku tak khawatir jika kau yang pergi ke sana. Setidaknya, tidak lagi. Aku memang pernah peduli pada beberapa hal tentang hidupmu. Tapi rasa peduli membuatmu bosan, bukan?

Baca lebih lanjut