Lorong

Ada beberapa buah jarak yang terlentang antara pikiran-pikiran yang menggenangi kepalaku malam ini. Jarak-jarak itu menyisakan ruang untuk kekecewaan, penyesalan dan kebimbangan. Kesemuanya adalah hasil yang tak terduga dari pola pemilihan yang tak sesuai hati nurani. Kepura-puraan, pretensi berlebihan karena tendensi gengsi melangit, rayuan ekspektasi masa depan yang menggiurkan, dan keterbatasan opsi untuk dipilih. Semakin hari, aku semakin punya firasat bahwa koridor yang telah setengah jalan ditempuh ini bukanlah menuju akhir yang tepat. Apakah mungkin itu hanya firasat? Aku ingin tahu jawabannya. Tapi aku tahu bahwa jawabannya ada di ujung perjalanan. Jika aku pergi ke sana, maka meskipun aku tahu jawabannya aku tetap tidak bisa mengulang masa yang sudah telanjur dilalui.

Mungkinkah aku hanya harus menunggu dan bertahan saja? Karena sepertinya tidak ada gunanya pula aku berusaha kembali. Aku sudah telanjur jauh berjalan sehingga perjalanan kembali tak ayal lagi akan menguras waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Pengorbanannya tidak akan sebanding dengan hasil yang kemudian mungkin akan didapat. Maka aku pikir, lebih bijak jika aku meneruskan saja perjalanan ini toh ujung-ujungnya kemungkina aku akan memperoleh hasil yang tidak berbeda jauh dengan yang mungkin akan aku dapatkan jika aku berjalan di lorong yang lain. Di sini, aku mendapatkan pelajaran tentang berbagai hal yang berkenaan dengan kegelapan. Aku belajar tentang eksistensialisme kegelapan, dialektika kegelapan, romantisisme kegelapan, estetika kegelapan dan aku juga diajari tentang slogan “Aku gelap maka aku ada”.

Aku tidak membenci gelap, hanya saja aku lebih menyukai terang. Karena dalam terang, aku bisa melihat warna-warna kontras yang memukau. Aku bisa menikmati bentuk-bentuk elok dari benda-benda materil. Dalam kegelapan, semua warna tampak sama. Semua bentuk tak ada bedanya. Apakah tajam ataupun pipih tak ada yang peduli karena kami tetap tak bisa membedakannya.

Tapi sejauh pengelanaanku di dalam lorong gelap ini, aku mendapatkan beberapa hal menarik tentang gelap. Dalam gelap, semua perbedaan bentuk dan pola dan warna tidak terdeteksi. Baik yang buta, sehingga tidak mampu mencerap kesan-kesan visual, dan yang matanya masih awas sama-sama hanya menangkap warna hitam. Tidak ada pihak yang merasa spesial karena masih bisa menikmati warna-warni bebungaan atau biru langit dan lautan. Semua orang mendapat persepsi yang sama tentang dunia di sekitarnya: sama rasa, sama rata. Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang memilih untuk masuk lorong ini.

Kesan lain yang lumayan menarik dari gelap adalah rasa aman dan awas sekaligus ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang tidak bisa kita kenali dan benda-bena yang posisinya tidak kita ketahui. Karena kita tidak tahu siapa saja orang di belakang dan depan kita, apakah mereka jahat atau baik, kita akan harus selalu waspada pada kemungkinan terburuk. Tapi karena pengalaman yang sama juga dialami oleh orang lain, maka kita juga sedikit banyak merasa aman. Toh mereka juga tidak tahu siapa yang ada di sebelah kanan-kirinya, maka mereka juga pastinya waspada kalau pun mereka hendak berlaku jahat kepada orang lain. Bisa-bisa mereka salah menerkam orang dan malah mendapat celaka karena yang diterkam ternyata lebih kekar dari dirinya.

Sudah setengah tahun aku berada dalam jalur gelap ini, atau setidaknya selama itu perkiraan instingku, karena susah sekali bahkan hampir mustahil menentukan waktu dengan tepat ketika kita tidak mampu melihat letak matahari. Mungkin saja aku telah lebih dari lima tahun berjalan-jalan di dalam sini. Tidak ada yang tahu, karena semua orang di dalam sini hanya bisa kembali melihat cahaya jika sudah berhasil sampai ke ujung terowongan. Kecuali jika kita mau capek-capek kembali ke pangkal lorong. Aku hanya berharap jika nanti sampai di penghabisan, dan bisa lagi menemukan cahaya, mataku masih bisa mencerapnya. Karena sekarang ini aku sudah tidak bisa mengetahui apakah penglihatanku masih bagus atau sudah hangus karena terlalu lama mendekam dalam ketiadaan cahaya.

Dalam kurun waktu selama itu, ada beberapa pejalan lain yang berhasil aku ajak berbincang. Oleh karenanya aku juga dapat mengetahui alasan mengapa mereka menjadi pejalan di kegelapan. Ada yang melakukan perjalanan karena mereka berharap bisa menemukan keadilan bagi hidup mereka, ada juga yang karena dirinya benar-benar mencintai kegelapan, dan ada pula yang hanya karena tidak punya pilihan lain selain memasuki lorong gelap ini karena ia merasa orang buta tidak cocok hidup di bawah terang. “Kegelapan adalah teman sejati orang buta” katanya. Semua orang punya alasan masing-masing yang melatarbelakangi pilihan mereka. Apapun alasannya, tidak apa-apa bagiku, yang penting mereka bisa menghargai alasanku juga.

Di sini, meskipun kami sama-sama menghadapi perkara yang sama, kegelapan, ternyata tidak semua dari kami mempunyai perspektif yang sama terhadap kegelapan. Ada beberapa orang yang pernah berbincang denganku mengatakan bahwa setelah memasuki dunia gulita ini, jiwanya merasa tenteram dan damai. Hatinya diliputi dengan cahaya jingga yang berpendar-pendar. Di sisi lain, pengakuan yang terdengar justru terkesan kelam dan pesimistik. “Aku kehilangan arti keindahan” ucap seseorang yang mengaku mantan pelukis. “Esensi kegelapan ini menggerogoti pikiranku” ujar seorang filsuf eksistensialis. “Entahlah, aku kehilangan kata-kata, aku bahkan tak tahu lagi apa itu kata” aku seorang mantan penyair.

Beberapa dari mereka yang kecewa terhadap kegelapan, mencoba berbalik arah dan menempuh perjalanan kembali ke tempat semula mereka masuk. Perjalanan melawan arus yang rawan akan hambatan karena letih, getir dan bosan yang sewaktu-waktu bisa saja mendera mereka.

Aku bisa menerima pilihan mereka tersebut, tapi aku tetap pada pendirianku bahwa adalah lebih bijak untuk meneruskan perjalanan ini sampai ke penghabisan. Meskipun aku tidak tahu persis seberapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh, seberapa lama lagi aku harus bergumul dengan gelap. Dan walaupun getir dan bosan semakin hari semakin menumpuk di ubun-ubun, aku harus tetap tabah dan tidak goyah. Aku yakin, pasti penghabisan lorong gelap ini tidak akan lama lagi akan aku jumpai. Aku yakin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s