Film Favorit 2016

Dari bilangan kreasi sinematografi yang muncul sepanjang 2016, ada yang masih begitu terendap dalam ingatan saya. Impresinya begitu kuat sampai saya harus menghakimi film-film lain dengan mereka sebagai parameternya. Film-film ini mungkin familiar dan banyak orang juga menyukainya, tapi mengungkapkan alasan mengapa kita menyukainya adalah usaha yang membingungkan. Mungkin beberapa baris kalimat di bawah sebilangan judul berikut adalah hasil yang saya dapat dengan menempuh kebingungan yang sama. Agak berbeda kasusnya dengan film yang kita ingat sebab impresi yang buruk, saya bisa mencaci film-film buruk tersebut dengan ungkapan memuakkan, dimulai dari eksploitasi proporsi fisik perempuan khas barat, aktor-aktor maskulin bertubuh tegap tapi aktingnya tanggung, sampai adegan laga yang bermental CGI. Senarai ini dibuat dengan anggapan bahwa mereka bernegasi terhadap cacian saya tersebut, sehingga saya berkesimpulan menyebut mereka film ‘bagus’. Meski mungkin (atau pasti) tetap saja luput dari kriteria lain yang harusnya dipertimbangkan:

4. Arrival

Film ini berbalut hasil jepretan yang mewah dan halus. Efek suara yang tepat sasaran dan mampu membangun suasana. Gema dengung di lorong-lorong pesawat alien itu berhasil mengantarkan saya pada celah pembukaan cerita tanpa paksaan sama sekali. Tidak seperti pada Batman v Superman yang mengawali pembukaan cerita dengan gemuruh bangunan runtuh dan disambut kerutan alis Bruce Wayne. Saya tidak bisa begitu saja terenyuh melihat kota asuhan Batman tersebut porak poranda oleh amukan Superman, hanya karena Ben Affleck mengerutkan dahinya. Ada sekuen katalis yang harusnya diselipkan di antara adegan heroik Superman menyelamatkan Louise Lane dan aksi havoc-nya berduel hingga melumat Gotham. Perubahan emosi antar adegan itu harusnya termediasi dengan baik jika ada sekuen penyelangnya. Di Arrivals, Amy Adams sukses membangun sendi-sendi emosi tiap sekuen film ini lewat adegan-adegan liris yang mencolok: nafas yang tertekan karena rasa cemas bertemu makhluk berkaki 7, senyuman lega bersama si anak semata wayang, dan ketekunannya mempelajari bahasa simbolik si alien. Keberhasilan ini juga merambah kepiawaian sang sutradara menyusun transisi suasana tiap sekuen, sehingga saya tidak dipaksa untuk membebek pada emosi si karakter. Adegan pembuka film ini, berupa kilasan memori tentang perjalanan hubungan Louise dan anaknya hingga anaknya meninggal, dijelang oleh ekspresi datarnya yang seolah menahan tumpahan emosi. Ini adalah sekelumit kecil keindahan tata sekuen dalam film Arrivals, namun saya tidak perlu mempatronisir dengan membahas keseluruhan adegannya, dengan memperhatikan sekilas keseluruhan film ini pun kita bisa paham.

Selain itu, saya cukup terkejut mendengar nama Sapir hadir ketika Ian mengungkit hipotesis Sapir- Whorf. Saya pernah membaca buku Edward Sapir, tapi belum yang Whorf, namun tetap saja saya merasa sedikit kagum penulis yang bukunya baru saya tamatkan ini diungkit dalam film sekelas Arrival. Sapir mengungkapkan dalam bukunya Language: An Introduction to the Study of Speech, bahwa bahasa adalah rekaman jejak pikir para penuturnya. Bagi saya, film ini berusaha mendemostrasikan dan mendasarkan premisnya pada pendekatan tersebut. Dengan mendalami bahasa si alien, kita sekaligus memahami kesadaran mereka.

Lebih lanjut, film ini juga mencoba mengeksplorasi konsep ‘alien’, atau mungkin ‘other’ secara luas, lewat hadirnya sosok makhluk ‘asing’ yang sama sekali non-anthropomorphic –berkaki tujuh, berdimensi waktu non-linear, bunyi bicara seperti dengungan dll– dan mengantisipasi bagaimana manusia akan dan harus merespon fenomena tersebut. Kita melihat bagaimana beragamnya reaksi manusia terhadap kedatangan alien, tapi kontras yang kentara adalah ketika para figur-figur pria dalam film ini habis-habisan menganalisa dan mempelajari apa alien itu, dari mana asal mereka dan apa yang mereka inginkan di bumi, Louise justru memilih menghentikan usahanya menginterogasi sang alien, dan mencoba mendekati mereka sebagai sesama makhluk yang berkesadaran. Ia menanggalkan jaket pelindungnya, menghampiri mereka secara perlahan dan menunjuk pada dirinya “Louise.” Setelah memperkenalkan dirinya dengan cara lugu seperti itu, ia beralih mengajak mereka mengenalkan diri ”and who are you?“ Louise membuka diri pada si makhluk asing itu, menghadirkan kesan pertemanan, dan berusaha menjalin kepercayaan di antara mereka. Andai saja sejak dulu kita berkenan bersikap seperti Louise terhadap orang yang ‘berbeda’, mungkin film ini tidak akan pernah perlu dibuat.

3. Manchester by the Sea

Lee memendam amarah dan rasa bersalahnya dalam-dalam dengan menutup diri dari orang lain dan dunia sekitarnya. Bagaimana memahami rasa kesepian yang dialami oleh orang yang menghukum dirinya sendiri? MBTS menghadapkan saya pada banyak pertanyaan yang menghantui sepanjang cerita. Tapi pertanyaan ini tidak mengganggu, justru mereka hadir sebagai usaha saya untuk memahami Lee. Pria canggung yang seharian bekerja sebagai tukang, dan di remang malam nongkrong di bar yang ramai hanya untuk menikmati kesendirian. Saya menikmati sikap canggungnya sebagai refleksi diri saya sendiri, dan di lain sisi, sebagai refleksi yang menyimpang. Kecanggungannya, kesendiriannya dan alur hidupnya yang terlihat membosankan disela oleh ledakan emosinya yang tiba-tiba meluap di saat yang tak terduga. Ia bisa tiba-tiba menghantam orang asing yang tak sengaja mendepak bahunya. Kepribadiannya meletup-letup tanpa dapat diterka. Meski begitu, polah berserk-nya ini rupanya tidak berlandaskan rasa kebencian atau tendensi pribadi. Ia hanya seperti kuda yang lolos dari kekangan karena ikatan yang begitu amat longgar. Kepribadiaannya yang datar itu memang ternyata tidak berpangkal pada ketenangan, tapi justru amarah dalam sekam. Dan amarah ini hanya dibalut oleh seutas kebingungan.

Apa yang ia inginkan dalam hidupnya sekarang? Lee sepertinya tidak mampu menjawab hal itu, dan kelangsungan hidupnya sekarang hanya diseret oleh rasa bersalah yang ia pikir harus ia emban selamanya. Lee adalah manusia biasa. Seorang yang ingin keluar dari jeratan masa lalu, tapi tak bisa, maka ia memilih untuk menyimpannya sendiri dan menjalani hidup sebisanya. Persis seperti Sisyphus si penanggung batu, menyeret batu ke atas bukit dan membiarkannya menggelinding kembali ke dasar lembah. Ad infinitum. Hidup adalah kesia-siaan. Tapi Lee, mungkin sudi saja menjalaninya.

2. Moonlight

Film ini layak menjadapat pujian, karena mampu menyeruak di antara rombongan film-film kulitputih-sentris. Di sini saya mendengar suara-suara negro dalam keseharian mereka sebagaimana keseharian khas masyarakat lainnya. Figur-figur kulit hitam di sini sama sekali tidak direpresentasikan sebagai warga kelas dua, atau society’s outcast yang terbuang dari dunia agung kaum kulit putih. Dunia Moonlight adalah semacam realitas paralel, yang memasabodokan stigma dan antipati dunia di luar mereka.

Di sinilah Chiron berada. Pergi belajar ke sekolah, pulang ke rumah ibu dan mendapati pria yang bukan ayahnya, bermain di lapangan namun dipermalukan karena bertubuh mungil, bercengkrama dengan Kevin yang mau saja berkawan dengannya, bertemu pria asing yang mengajaknya berkunjung ke rumah dan dijamu makan makan oleh pacarnya, dan seterusnya dan seterusnya.

Negro mampu hidup dan berkehidupan sebagai dirinya. Kebebasan untuk hidup ini tak perlu direcoki dengan kehidupan ideal orang kulit putih. Bagaimanapun, Moonlight bangga bisa hidup sebagai film kulit hitam yang bercerita tentang manusia. Chiron tumbuh menjadi remaja yang kesepian, dan menemukan Kevin sebagai teman sekaligus cinta pertamanya. Mereka berjumpa di pantai dan berbagi sebatang rokok, selanjutnya berbagi ciuman dan Kevin memberinya sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Pengalamannya ini kerap terbawa dalam pikirannya bahkan hingga ia dewasa. Memori indah, meski awkward, itu mendapatkan kesempatan untuk diungkap kembali ketika Kevin meneleponnya setelah sekian lama.

Chiron pun tiba di restoran tempat Kevin bekerja, dan Kevin terhenyak karena tak mengira si pelanggan yang akan ia layani ternyata adalah karibnya yang ia nanti-nanti. Di sinilah memori itu berulang, mereka bercengkrama, saling mengenal kembali, dan Chiron meluapkan perasaannya yang selama ini terpendam. Moonlight adalah tentang bagaimana kaum tertindas bisa berbicara hal lain selain ketertindasan. Ia berbagi cerita tentang persahabatan, romansa, dan ekspresi kehidupan lainnya yang membuktikan bahwa kulit hitam juga manusia seutuhnya, dengan empati dan emosi yang hadir dalam setiap detik kehidupan mereka. Film ini berhasil mengubur perspektif komunal bahwa kaum kulit hitam  hanya kaum yang ‘tersubordinasi’ pada eksistensi si ras beradab.

1. Certain Women

Saya ingin mengungkap banyak hal tentang film ini, tapi untuk sekarang, saya cuma ingin bilang: Apa yang lebih menarik dari film yang berkisah tentang perempuan sebagai seorang perempuan?

Iklan

2 pemikiran pada “Film Favorit 2016

    • Emang sih ceritanya cukup familiar, pribadi yang pendiam sering dibully terus broken home pula. Tapi yang menarik sih soalnya dunia yang dibangun itu melingkup cuma kehidupan orang kulit hitam amerika, dan sama sekali nggak menyinggung hubungan mereka sama orang kulit putih di sana. Aku pikir ini menarik, sebab film-film kulit hitam yang pernah aku tonton justru terjebak sama pola messiah-complex, sosok kulit putih yang jadi penyelamat orang kulit hitam yang tertindas. Di sini, Chironnya mampu mandiri dan cope sama masalah hidupnya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s