Kembara

Menerima adalah salah satu bentuk kekalahan. Rani ingat dengan lekat ungkapan pesimis ini yang dulu pernah diungkapkan kepadanya oleh kakeknya, yang katanya dia dapatkan dari kakeknya dan seterusnya sampai ke ujung muasal riwayat yang tak dapat diterka. Rani mengingat kakeknya sebagai seorang uzur yang penuh penyakit dan kemurungan, tanpa istri tanpa anak. Sebatang kara. Kata orang-orang dulunya dia sering menggunakan susuk untuk menggoda perawan-perawan desa. Sekarang, susuk-susuk yang tertanam di tubuhnya tak mampu berbuat banyak ketika kerentanan usia menerpa rangka dan daging yang dulunya segar dan muda. Susuk dengan sukma yang dahsyat tersebut menguapkan seluruh energi yang tersisa di tubuh ringkih si tua, dan kini yang tersisa hanya balutan kulit atas tulang.

Apakah Rani percaya pada perkataan kakeknya? Apakah kakek tidak bisa menerima keadaan tubuhnya yang sekarang? Apakah penerimaan begitu sulit bagi kakek? Baca lebih lanjut

Iklan

Lorong

Ada beberapa buah jarak yang terlentang antara pikiran-pikiran yang menggenangi kepalaku malam ini. Jarak-jarak itu menyisakan ruang untuk kekecewaan, penyesalan dan kebimbangan. Kesemuanya adalah hasil yang tak terduga dari pola pemilihan yang tak sesuai hati nurani. Kepura-puraan, pretensi berlebihan karena tendensi gengsi melangit, rayuan ekspektasi masa depan yang menggiurkan, dan keterbatasan opsi untuk dipilih. Semakin hari, aku semakin punya firasat bahwa koridor yang telah setengah jalan ditempuh ini bukanlah menuju akhir yang tepat. Apakah mungkin itu hanya firasat? Aku ingin tahu jawabannya. Tapi aku tahu bahwa jawabannya ada di ujung perjalanan. Jika aku pergi ke sana, maka meskipun aku tahu jawabannya aku tetap tidak bisa mengulang masa yang sudah telanjur dilalui.

Baca lebih lanjut

Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Sapardi Djoko Damono (Kompas, 9 Februari 2014)

Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono ilustrasi Rifda Amalia

WARTAWAN Itu Menunggu Pengadilan Terakhir

Seperti yang sudah seharusnya, pada hari baik itu saya mati. Kata seorang sahabat dalam sebuah sajaknya yang mahaindah, kita semua ini turis yang dibekali karcis dua jurusan. Dan tentunya, pikir saya, kita tidak boleh menyia-nyiakan tiket pulang itu. Saudara tahu, saya wartawan sebuah majalah berita. Dididik untuk mengembangkan naluri mewawancarai orang. Itu sebabnya ketika harus menunggu giliran maju ke Pengadilan Terakhir, yang entah kapan dilaksanakan, naluri saya mendadak menyembul. Saya celingak-celinguk di antara begitu banyak orang (mati) dan, alhamdulillah, ketemu seorang (sic!) Malaikat yang sedang tugas keliling mengamati kami. Saya mendekatinya.

”Kalau boleh tanya, apa saya bisa menemui Kakek kami?” 

Lihat pos aslinya 1.377 kata lagi

Ibu dan Lelaki Berpenis Tembaga

Hari Minggu kemarin ibu mengajakku pergi ke pasar Minggu, yang penuh sesak oleh racauan pembeli dan penjual. Pasar Wanaraja namanya. Setiap hari sepanjang jalan depan pasar selalu macet, delman parkir dengan kepala kuda menohok jalan. Tak ada sekat untuk pejalan kaki melewati pasar, hanya ruang-ruang sempit di antara ketiak kuda untuk pembeli yang datang dengan motor lalu berhenti tepat di depan muka kuda. Kuda-kuda mendengus kesal, tapi deru motor masih terlalu keras untuk ditimpali oleh dengusan kuda.

Baca lebih lanjut

Lain

Beginilah jadinya, kita saling bertemu tatap lagi di tempat yang sama. Fragmen-fragmen warna yang redup menjadi latarnya. Pohon-pohon yang tak aku tahu jenisnya berdiri berjarak seolah menjadi penontonnya. Dan, oh ya, laluan antar taman lama ini jadi panggungnya. Sepertinya kita harus mulai berdrama lagi. Aku jadi lelaki bajingannya, dan kamu, perempuan berwajah malang, selalu berperan klise sebagai korban. Aktingmu selalu memukai. Setiap kali aku memujimu pasti kau tersenyum. Dan lihatlah, senyum simpul itu nampak lagi. Sayang, itu palsu.

Kenapa kembali? Jalan di belakangku sudah lama buntu. Tak ada lagi yang lewat lebih jauh dari tempatku berdiri kini. Ada tulah yang menunggu di dalam sana. Tapi aku tak khawatir jika kau yang pergi ke sana. Setidaknya, tidak lagi. Aku memang pernah peduli pada beberapa hal tentang hidupmu. Tapi rasa peduli membuatmu bosan, bukan?

Baca lebih lanjut