Ketika Rani Bicara

Anak itu murung saja sambil duduk-duduk di ranjangnya yang awut-awutan. Tak ada sesiapa di sana. Sepi. Hanya deru suara angin yang kadang-kadang mencoba masuk lewat celah-celah jendela. Di luar, di lorong-lorong, di ruangan-ruangan lain rumah itu kesunyian nyinyir ke setiap sudutnya. Rani tetap tak beranjak dari tempatnya semula. Kepalanya tertunduk, tatapan matanya kosong menyapu bayangannya sendiri di atas lantai kamar. Dalam kepalanya mungkin beragam khayalan sedang beradu cepat menghinggapi benaknya. Dan, dalam kesunyian yang menyelimuti udara kamar, suara-suara imajiner tiba-tiba muncul menerpa pikirannya.

Baca lebih lanjut