Pertaruhan Lelaki Harimau

Untuk mengetahui apa yang telah diperbuat si lelaki harimau, kita bisa lihat di halaman pertama. Mengetahui mengapa dia melakukannya, sambangi halaman terakhir. Saya menyadari hal ini setelah beres membaca buku Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan yang keren itu. Ya bagaimana gak keren, dia menunda jalan cerita utamanya, tak tanggung-tanggung, sampai ke halaman terakhir. Menyekat plot sepenting itu dengan lampiran plot-plot lain di hampir sepenuh buku. Ini adalah penundaan yang berani, suspense yang kelewat nekat.

Suspense adalah memotong nuclei, plot utama sebuah cerita, dengan selipan-selipan plot lain, catalyst, yang bisa jadi tidak punya hubungan penting dengan plot utama, bukan sebagai indices melainkan hanya informants. Di novel ini, catalyst yang meremah di sekujur tubuh novel tersebut, berselingan begitu cepat, meskipun tak sampai membuat kita kehilangan arah, berfungsi penting bagi si cerita utama. Kisah tentang karakter-karakternya ternyata membangun impresi yang kuat terhadap adegan pembunuhan yang kemudian dipentaskan kembali dengan lebih rinci di akhir cerita. Mereka bukan cuma informant, mereka tidak sekedar hadir untuk mengisi ruang hampa yang di dalam tubuh-tubuh kaku si karakter-karakternya. Lebih dari itu, cerita-cerita itu justru membantu menghidupkan adegan pembunuhan tersebut. Margio jadi tak sekedar tokoh yang membunuh dengan pikiran kosong, dan gigitan yang canggung.

Pengetahuan kita akan harimau yang bersemayam dalam diri Margio, yang kita dapati di banyak bagian novel, pada selipan-selipan catalyst tadi, telak menyeruak pas sekali saat Margio menyambarkan “taring”-nya ke leher Anwar Sadat. Gigi-gigi manusia yang kusam nan tumpul itu jadi berkilatan bagai ujung ujung taring harimau. Coba saja baca adegan terakhir itu tanpa membaca cerita harimaunya Margio, pasti jadi terdengar absurd -setidaknya begitu bagi saya.

Nah, inilah menurut saya alasan mengapa Eka adalah seorang peracik plot yang piawai. Suspense adalah pertaruhan sekuen. Sekuen adalah rentetan aksi-aksi minor yang membentuk garis besar cerita. Memecah, memotong, menunda, dan mengaburkan urutannya adalah pertaruhan hidup mati cerita. Gagal dalam pertaruhan ini, omponglah si lelaki harimau. Tapi Eka membuktikan sebaliknya. Lelaki Harimau berhasil membuat saya takjub dengan gaya bertutur yang sama sekali tidak terbata-bata walau langsung berpindah-pindah sekuen berkali-kali. Kekuatan narasinya tetap terjaga. Bahkan sekuen di penghujung ceritanya menjadi salah satu elemen narasi yang sangat note-worthy, kalau, seperti sudah saya bilang, kita mengikuti perkembangan cerita-cerita catalyst di halaman-halaman sebelumnya.

Saya tak tahu jika buku-buku Eka yang lain juga sehebat ini. Tapi mungkin kalau ada uang lebih, saya kepingin baca kumpulan cerpennya terlebih dahulu.

Iklan