Lorong

Ada beberapa buah jarak yang terlentang antara pikiran-pikiran yang menggenangi kepalaku malam ini. Jarak-jarak itu menyisakan ruang untuk kekecewaan, penyesalan dan kebimbangan. Kesemuanya adalah hasil yang tak terduga dari pola pemilihan yang tak sesuai hati nurani. Kepura-puraan, pretensi berlebihan karena tendensi gengsi melangit, rayuan ekspektasi masa depan yang menggiurkan, dan keterbatasan opsi untuk dipilih. Semakin hari, aku semakin punya firasat bahwa koridor yang telah setengah jalan ditempuh ini bukanlah menuju akhir yang tepat. Apakah mungkin itu hanya firasat? Aku ingin tahu jawabannya. Tapi aku tahu bahwa jawabannya ada di ujung perjalanan. Jika aku pergi ke sana, maka meskipun aku tahu jawabannya aku tetap tidak bisa mengulang masa yang sudah telanjur dilalui.

Baca lebih lanjut

Ketika Rani Bicara

Anak itu murung saja sambil duduk-duduk di ranjangnya yang awut-awutan. Tak ada sesiapa di sana. Sepi. Hanya deru suara angin yang kadang-kadang mencoba masuk lewat celah-celah jendela. Di luar, di lorong-lorong, di ruangan-ruangan lain rumah itu kesunyian nyinyir ke setiap sudutnya. Rani tetap tak beranjak dari tempatnya semula. Kepalanya tertunduk, tatapan matanya kosong menyapu bayangannya sendiri di atas lantai kamar. Dalam kepalanya mungkin beragam khayalan sedang beradu cepat menghinggapi benaknya. Dan, dalam kesunyian yang menyelimuti udara kamar, suara-suara imajiner tiba-tiba muncul menerpa pikirannya.

Baca lebih lanjut