Lain

Beginilah jadinya, kita saling bertemu tatap lagi di tempat yang sama. Fragmen-fragmen warna yang redup menjadi latarnya. Pohon-pohon yang tak aku tahu jenisnya berdiri berjarak seolah menjadi penontonnya. Dan, oh ya, laluan antar taman lama ini jadi panggungnya. Sepertinya kita harus mulai berdrama lagi. Aku jadi lelaki bajingannya, dan kamu, perempuan berwajah malang, selalu berperan klise sebagai korban. Aktingmu selalu memukai. Setiap kali aku memujimu pasti kau tersenyum. Dan lihatlah, senyum simpul itu nampak lagi. Sayang, itu palsu.

Kenapa kembali? Jalan di belakangku sudah lama buntu. Tak ada lagi yang lewat lebih jauh dari tempatku berdiri kini. Ada tulah yang menunggu di dalam sana. Tapi aku tak khawatir jika kau yang pergi ke sana. Setidaknya, tidak lagi. Aku memang pernah peduli pada beberapa hal tentang hidupmu. Tapi rasa peduli membuatmu bosan, bukan?

Baca lebih lanjut