Lain

Beginilah jadinya, kita saling bertemu tatap lagi di tempat yang sama. Fragmen-fragmen warna yang redup menjadi latarnya. Pohon-pohon yang tak aku tahu jenisnya berdiri berjarak seolah menjadi penontonnya. Dan, oh ya, laluan antar taman lama ini jadi panggungnya. Sepertinya kita harus mulai berdrama lagi. Aku jadi lelaki bajingannya, dan kamu, perempuan berwajah malang, selalu berperan klise sebagai korban. Aktingmu selalu memukai. Setiap kali aku memujimu pasti kau tersenyum. Dan lihatlah, senyum simpul itu nampak lagi. Sayang, itu palsu.

Kenapa kembali? Jalan di belakangku sudah lama buntu. Tak ada lagi yang lewat lebih jauh dari tempatku berdiri kini. Ada tulah yang menunggu di dalam sana. Tapi aku tak khawatir jika kau yang pergi ke sana. Setidaknya, tidak lagi. Aku memang pernah peduli pada beberapa hal tentang hidupmu. Tapi rasa peduli membuatmu bosan, bukan?

Kali lain kita pernah bertemu, dan saat itu adalah yang pertama. Aku masih menyimpan memori istimewa itu. Aku bahkan hafal berapa kali kau menggaruk hidungmu dengan jemarimu yang lentik itu. Kalau kau ingin ungkapan yang hiperbolik seperti ini: “Aku hafal berapa jumlah helai rambutmu yang terbang setiap kali tersibak angin.” Maka aku bersedia mengada-ngadakannya untukmu. Ah, tapi rayuan seperti itu selalu tak terbalas. Sepertinya aku bercerita begitu banyak kepadamu, namun aku tak mendengar begitu banyak tentang hidupmu. Hidupmu aneh. Dirimu aneh. Tapi aku pernah mencintai keanehan itu. Dan itu adalah dulu.

Setiap kali aku berusaha menulis surat kepadamu, selalu ada muak yang menunggu di setiap ujung klausa. Karena menulis adalah hal yang spesial, sedangkan kau adalah makhluk paling aneh yang pernah aku temui, maka menulis dan dirimu akan selalu kontraproduktif. Kau adalah negasi dari menulis. Dirimu adalah gargantua yang melenyapkan kata-kata. Kau tahu apa itu Gargantua? Itu adalah lubang cacing terbesar di…ah. Aku ceritakan pun kau tak akan ingat lagi. Dasar gargantua.

Kau tahu apa yang aku bayangkan ketika aku berbicara padamu? Aku selalu berpikir bahwa aku ini seperti pelikan yang memangsa merpati. Iya, merpatinya adalah kamu. Merpati itu mengejat-ngejat berusaha keluar dari kantung paruhku, tapi aku juga tak mau melepaskannya. Aku adalah pelikan yang kebingungan. Mengapa aku memakanmu? Selezat apakah rasa tubuhmu itu? Mengapa aku tidak melahap ikan saja seperti pelikan-pelikan lain? Mengapa pula harus merpati aneh sepertimu?

Ah, aku memang dungu. Mampus aku dicekoki bulu-bulumu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s