Ibu dan Lelaki Berpenis Tembaga

Hari Minggu kemarin ibu mengajakku pergi ke pasar Minggu, yang penuh sesak oleh racauan pembeli dan penjual. Pasar Wanaraja namanya. Setiap hari sepanjang jalan depan pasar selalu macet, delman parkir dengan kepala kuda menohok jalan. Tak ada sekat untuk pejalan kaki melewati pasar, hanya ruang-ruang sempit di antara ketiak kuda untuk pembeli yang datang dengan motor lalu berhenti tepat di depan muka kuda. Kuda-kuda mendengus kesal, tapi deru motor masih terlalu keras untuk ditimpali oleh dengusan kuda.

Aku berada di seberang yang lain, melihat kuda-kuda berkacamata dan pembeli yang datang tak habisnya. Aku takkan mampu berdesakan di belantara manusia di pasar itu. Aku sering terganggu oleh bising teriakan para penjual ketika menjajakan dagangannya.

Maka aku mengukur waktu di sini saja, dari kejauhan, mengamati ibuku yang larut dan lebur bersama keramaian pasar. Katanya dia mau membeli handuk dan sepotong kain sarung. Aku tak mengerti mengapa dia membeli dua hal itu setiap kali ke pasar Minggu.

“Nanti malam, mantena bade sumping” kata ibuku.

Aku tak tahu siapa mantena yang dia maksud, apakah pak kondektur bis Budiman yang suka berkunjung dan bermanis-manis depan ibuku. Ataukah pak Dawam, guru Bahasa Indonesia-ku. Dia sering datang membawa mawar ke rumahku. Katanya sekadar bela sungkawa atas naas-nya nasib nilai-nilaiku satu semester ini. Lalu dia akan mengajak ibuku berdiskusi di kamar, masalah privasi katanya, semacam konseling agar ibuku tahu pelajaran apa yang belum aku kuasai benar.

Setiap tamu yang datang berkunjung ke rumah, lalu singgah di ranjang ibuku, selalu disambut hangat oleh ibuku dengan mengenakan sehelai kain sarung, sedang tamu berhanduk selutut. Ibuku bilang, inilah pekerjaannya. Pekerjaannya adalah berbagi kebahagiaan. Banyak dari tamu itu hampir di pintu rumahku sambil terisak, mata yang lebam, hidung berair, dan bibir yang kering tertekuk mengeram. Kata ibuku, mereka adalah yang orang-orang yang belum menemukan kebahagiaan. Beruntung ibuku berhasil menemukannya, maka ia berbagi kepada mereka.

Di bahu jalan seberang pasar, aku melihat ibuku menyeruak di antara keramaian menenteng kantong plastik yang tentu saja berisi handuk dan kain sarung. Ia menunggu lalu lintas putus sejenak agar ia bisa menyeberang. Aku menunggu sambil duduk diatas motorku, X-ride, keluaran terbaru dari Yamaha, yang minggu lalu dibelikan cash oleh ibuku. Sambil menunggu aku melihat samar-samar ada pria berhanduk selutut memakai jaket berkerudung menutupi kepalanya menghampiri ibuku dari belakang. Apa dia orang gila? pikirku.

Mukanya terhalang bayangan gelap dari kerudung yang ia kenakan. Ia menarik tangan ibuku, terlihat sekali tangannya yang gemulai tak mampu menghalau kekar tangan si lelaki. Ibuku melawan, tapi ada lebih banyak lagi yang datang. Lelaki-lelaki berhanduk selutut, berkerudung menutupi kepala.

Mulutku meracau: Bedebah! Bedebah! Anjing!

Kuambil helm dengan tangan kanan dengan kaki menyiapkan kuda-kuda bersiap untuk lari dan menerkam mereka. Lalu lintas tetap tak putus, aku menggeram, tanganku terkepal, mataku buta dan merah menyala.

Orang-orang malah minggir melingkar, membiarkan mereka memegangi ibuku yang terkekang tangan-tangan kekar para bedebah itu. Aku tak peduli dengan mobil-motor yang deras melintas, aku hanya ingin menerkam mereka. Satu langkah keluar dari bahu jalan, satu mobil dari sisi kananku berhenti mendadak dengan klakson meraung-raung. Langkah selanjutnya menjadi mimpi buruk, mobil-mobil yang lain tak mau berhenti memberi jalan bagiku.

Aku ditabrak tepat di pinggul, tulang belakangku rasanya patah, kakiku terpelanting dan tubuhku terpental beberapa meter di depan ibuku. Sambil terbaring bersimbah darah, mataku nanar melihat baju ibuku dilucuti mereka. Tubuhku kaku, pandanganku kabur. Saat itu aku mulai sadar, bahwa ibuku tak lagi punya kebahagiaan untuk dibagikan.

Para lelaki itu, mereka menagih apa yang ibuku tak lagi punya. Kebahagiaan yang ibu bagikan kini sudah gentas tak bersisa. Ibuku mengerang ketika salah satu lelaki menyingsingkan rok ibuku dan menebaskan penisnya yang sebesar pemukul kasti. Ibuku yang malang mengerang, aku melihat mulutnya menganga mencekam, tapi berangsur-angsur aku tak lagi mendengar erangannya. Teriakan kesakitan itu kian tenggelam dalam desahan nikmat si lelaki berpenis tembaga.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

CLASH

HELPING YOU CUT THROUGH THE BULLSHIT.

Perpustakaan Literati

perpustakaan publik & kolektif buku

ideas.ted.com

Explore ideas worth spreading

Celestial Timepiece

A Joyce Carol Oates Patchwork

Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

North American Review

Summa summarum: jeg gider slet ikke!

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Kumpulan Fiksi

Menghimpun & Berbagi

Komunitas BungaMatahari

Semua Bisa Berpuisi!

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Bumi Rakyat

"Kebahagiaan adalah perjuangan melawan penindasan" (Karl pada Eleanor Marx)

Seteguk Kopi Pahit

Tak Ada KORAN, BLOG pun Jadi

BERANDA RASA HELVY TIANA ROSA

Sastra. Film. Parfum

Diary of Kutu Bokek

So Many Books, So Little Money - Peri Hutan

efenerr

mari berjalan, kawan.

Katajiwa

Majalah Kebudayaan

%d blogger menyukai ini: